17 June 2015

Review: REC 4 Apocalypse (2015)


Spain | Horror, Foreign | R | Directed by: Jaume Balagueró | Written by: Jaume Balagueró, Manu Diez | Cast: Manuela Velasco, Paco Manzanedo, Hector Colome, Mariano Venancio | Spanish | Run time: 95 minutes

Sinopsis:
Setelah diselamatkan dari gedung apartemen yang penuh dari zombie, seorang jurnalis perempuan malah dijadikan objek eksperimen vaksin virus di sebuah kapal yang berlayar di tengah laut. Akibat dari aksi sabotase pihak misterius, kapal tersebut kini dipenuhi zombie. 

Review:
REC 4 Apocalypse adalah film keempat dan terakhir dari franchise film horor Spanyol REC. Film pertamanya, REC (Jaume Balagueró dan Paco Plaza, 2007) adalah salah satu film terseram yang pernah saya tonton. Film tersebut memiliki konsep found footage yang memadukan unsur zombie generik dengan unsur keagamaan yang terasa unik untuk konsep semacam itu. Hal paling seram dari film tersebut adalah mampu menimbulkan rasa klaustrofobia dan rasa tidak berdaya, semua karakter terperangkap di sebuah gedung apartmen kecil di Barcelona yang mana mereka hanya bisa naik atau turun lantai untuk mencegah diri mereka dimangsa oleh zombie yang berkeliaran dan bertambah jumlahnya. Bisa dibilang seperti versi horor dari film The Raid (Gareth Evans, 2011).

Kesuksesan film REC kemudian melahirkan tiga film lainnya, yaitu REC 2, REC 3 Genesis, dan film yang diresensi kali ini REC 4 Apocalypse. Film REC juga sempat di-remake oleh Hollywood menjadi film Quarantine (John Erick Dowdle, 2008) dan juga memiliki sequel-nya sendiri dengan judul Quarantine 2: Terminal (John Pogue, 2011). Namun sayang sebagai sebuah franchise, film-filmnya cenderung tidak konsisten dengan materi aslinya. Ambil contoh REC 2, jika boleh mengibaratkan REC sebagai Alien garapan Ridley Scott maka film keduanya ini seperti Aliens garapan James Cameron. Terasa lebih macho dan memiliki bumbu action. Tetapi REC 2 saya rasa masih menjadi film yang sepadan dengan materi aslinya. Beda cerita dengan film lanjutannya yakni Genesis yang merupakan sebuah perombakan ulang. Konsep found footage dibuang dan kali ini filmnya diberi bumbu komedi dengan tonal yang tidak terlalu serius. Lalu untuk film Apocalypse, Balagueró yang merupakan salah satu sutradara asli film REC bersama penulis skrip Manu Diez mencoba menggabungkan unsur-unsur yang telah ada menjadi sebuah perpaduan yang pantas untuk menutup franchise ini.


Di film ini kita kembali bertemu dengan Angela Vidal (Manuela Velasco), heroine asli serial REC yang sempat absen di film Genesis. Film ini bermula di gedung apartemen yang menjadi lokasi film pertama dan kedua. Angela diselamatkan dua anggota GEO (Grupo Especial de Operaciones) yang benama Guzman (Paco Manzanedo) dan Lucas (Críspulo Cabezas). Kemudian mereka bertiga bersama dengan orang-orang yang selamat dari kejadian di film Genesis dibawa ke sebuah kapal tanker untuk diteliti oleh Dr. Ricarte (Héctor Colomé) bersama timnya. Di kapal yang dinakodahi oleh Kapten Ortega (Mariano Venancio) dan anak buah kapal Nick (Ismael Fritschi) itu, Ricarte berusaha untuk mencari vaksin dari virus zombie yang menyebar di film pertama REC. Akibat dari adanya sabotase dari pihak misterius, virus tersebut menyebar dan menjangkiti hampir semua orang di kapal tersebut. Kini yang tersisa harus bertahan hidup dari serangan zombie yang memenuhi kabin dan dek kapal yang berlayar tanpa arah di tengah-tengah ganasnya lautan.

Telah disinggung sebelumnya bahwa franchise film ini tidaklah konsisten. Di Apocalypse ini dengan sangat menyesal saya katakan bahwa ketidakkonsistenan itu berlanjut kembali. Satu hal yang menjadikan serial ini begitu menarik adalah perpaduan antara unsur zombie generik dengan unsur keagamaan. Perpaduan yang mana tidak tampak di film ini. Apocalypse tampil sebagai versi sekuler dari franchise REC dengan mengedepankan konsep experiment gone wrong. Bahwa keseluruhan film ini hanya berkutat pada pencarian pelaku sabotase eksperimen dan pencarian host utama virus tersebut, tidak didominasi hawa-hawa keagamaan yang sangat kental di tiga film sebelumnya. Meski adanya "permainan" tebak-tebakan siapa yang merupakan host utama virus tersebut cukup menarik, ala film The Thing (John Carpenter, 1982), ketiadaan unsur keagamaan justru malah membuat Apocalypse terasa sebagai film zombie generik. Tidak ada unsur tambahan yang membuat film ini menarik. Ketiadaan unsur tersebut menjadikan film terakhir REC ini seperti kehilangan arah.


Jika ditanya apakah film ini seram, karena memang film ini adalah film horor, maka jawabannya adalah cukup seram meski tidak seseram itu. Film ini masih menawarkan momen-momen seram yang tersebar di beberapa titik. Momen seram tersebut dibantu dengan adanya ilusi klaustrofobia seperti yang dirasakan di film pertama dan keduanya. Ya, bayangkan saja berada di sebuah kapal di tengah laut bersama zombie-zombie yang siap memangsa dan tanpa ada komunikasi dengan dunia luar untuk meminta tolong. Namun seram atau tidaknya film ini tidak memudarkan rasa bahwa film ini masih cukup menghibur. Mungkin tidak cukup memuaskan fans keras film horor atau bahkan fans franchise ini sekalipun, namun film ini terbilang ringan dan cocok untuk ditonton untuk sekedar menghabiskan waktu saja.

Memang sudah saatnya franchise ini usai. Apocalypse bukan menjadi film yang menyamai kualitas film pertamanya. Untung saja film ini masih menghibur, sama seperti film-film sebelumnya. Akhir film ini sesungguhnya masih membuka kemungkinan meski sangat-sangat kecil untuk adanya film lanjutan. Hanya saja, ibaratnya sebuah mobil, REC sudah kehabisan bensin untuk melaju, bahkan jika pun bisa melaju maka tujuannya tidak jelas. Sudahlah berhenti ketika film-filmnya masih menghibur daripada tetap dipaksakan malah justru makin menenggelamkan nama serial ini. Adiós REC!

Best Scene:
Ketika Angela, Guzman, Lucas, dan seorang nenek pikun (María Alfonsa Rosso) mengarungi kapal dengan tanpa satu pun senjata di tangan mereka sesaat setelah virus tersebut menyebar ke seluruh penjuru kapal.


Kesimpulan:
...and you? Perhaps you're the one who deceiving us?

Apocalypse merupakan film penutup dari franchise film horor spanyol REC. Franchise yang mulanya menjanjikan ini kini harus berakhir dengan seadanya. Hilang dalam bayang kesuksesan film pertamanya dan tidak mampu mengulangi keberhasilan tersebut. Tidak konsisten dengan konsep awal dan tidak berhasil memberikan sentuhan baru terhadap materi aslinya. Apocalypse tampak lebih sekuler dibandingkan tiga film sebelumnya. Paduan antara unsur keagamaan dan zombie yang membuat REC menarik tidak ditemukan di film ini. Masih memiliki momen seram yang dibantu dengan adanya ilusi klaustrophia dan ketidakberdayaan, film ini ringan dan masih menghibur. Memang sudah saatnya franchise ini berhenti. Adiós REC!


P.S. Banyak juga gue ngulang kata "franchise" di resensi ini, hmmm.

What do you think about this movie? Share your opinion in the comment box below :D

No comments:

Post a Comment